Tampilkan postingan dengan label Pernikahan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pernikahan. Tampilkan semua postingan

Sikap Istri Terhadap Suami

Kewajiban pertama seorang istri terhadap suaminya adalah mentaati segala perintahnya, asal bukan hal yang melanggar syariah Islam. 

Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW. "Dan sebaik-baik istri adalah yang taat kepada suaminya, bijaksana, berketurunan, sedikit bicara, tidak suka membicarakan sesuatu yang tidak berguna, tidak cerewet dan tidak suka bersuara hingar-bingar serta setia kepada suaminya."

Dalam hidup berkeluarga, suami memang harus dipandang sebagai tuan sekaligus teman yang abadi dalam hidup ini, yang juga akan melindungi istri dan anak-anak. Oleh karena itu ada beberapa etika dan cara bergaul yang harus diperhatikan istri kepada suaminya, diantaranya adalah :
  • Disaat suami sedang berbicara dengan istri jangan sekali-kali istri meninggalkannya, perhatikan pembicaraan itu sebaik-baiknya. Apabila suami memberikan pertimbangan terhadap suatu masalah atas kesulitan, istri harus mempertimbangkan sebaik-baiknya.
  • Istri tidak boleh membantah dengan keras terhadap suaminya. Bersikaplah yang bijaksana. Untuk sementara waktu, sebaiknya istri mengikuti kehendak suami, sesudah suasana memungkinkan kalau pertimbangan atau saran suami kurang tepat, ajukanlah pertimbangan yang lain dengan cara yang sabar dan penuh kasih sayang, sehingga tujuan kedua belah pihak tercapai tanpa harus ada yang merasa tersinggung atau disepelekan.
  • Jika suami sedang marah karena satu dan lain hal, hendaklah istri berlaku sabar dan diam untuk sementara waktu, jangan dibantah atau ditentang, karena seandainya dibantah atau ditentang akan menimbulkan suasan yang semakin tegang dan memuncak kemarahnnya yang pada akhirnya akan menggoyahkan sendi-sendi keluarga.
  • Istri hendaklah mengerjakan perintah suami dengan segera, tenang dan hati-hati, asalkan perintah itu tidak bertentangan dengan syariah Islam dan adat istiadat yang berlaku.
  • Ketika suami sedang duduk-duduk, hendaklah istri menghampiri dengan penampilan yang menyenangkan, dan kalau suami mengajak bicara berilah perhatian sepenuhnya dan ikutilah pembicaraan itu dengan seksama sehingga akan menampakkan suasana hidup yang rukun dan damai. Bila perlu mintalah ijin untuk mengambilkan kopi/teh dan makan kecil kesukaannya, sehingga dapat membangkitkan kembali kemesraan cinta dan gairah hidup baginya, karena ia merasa mendapatkan istri yang setia dan menyenangkan.
  • Jika istri akan bepergian, haruslah ia meminta ijin suaminya.
  • Tidak boleh seorang istri menyambut kedatangan suami dari bepergian atau tempat kerja dengan muka masam atau dahi berkerut, berbadan dan berpakaian kotor. Penampilan yang seperti ini akan menambah kelelahan suami setelah seharian bekerja mencari nafkah keluarga.
  • Istri harus menghormati keluarga suami (Bapak, Ibu saudara-saudaranya), meskipun secara status sosial ekonomi, mereka kurang beruntung dibandingkan dengan keadaan keluarga istri.
  • Istri berkewajiban untuk mengasuh, memelihara dan mendidik anak-anak sebaik-baiknya serta memberikan tauladan kepada mereka.
  • Istri hendaklah selalu mendampingi suami diwaktu malam. Jika kebetulan istri sudah mendahului makan malam, hendaknya ia mendampingi suami dalam bersantap malam sampai selesai.
  • Istri dilarang keras menceritakan rahasia keluarga dan rahasia suaminya kepada orang lain, sekalipun dengan sahabat karib atau orang tuanya. Rahasia itu misal, soal hutang, cacat suami, saingan atau musuh suaminya, kekurangmampuan suami dalam memberikan nafkah batin dan sebagainya. 
  • Bagi seorang istri yang sibuk dengan pekerjaan sehari-hari (karena sebagai wanita karir), hendaklah ia meluangkan waktu untuk berlibur dan bersenang-senang bersama suami dan anak-anak.
Membaca beberapa poin diatas, tentu para istri ada yang merasa berat ataupun sebaliknya, bahkan bisa jadi ada yang merasa tidak adil. lalu bagaimana dengan sikap suami? mesti adil kan, baca postingan sebelumnya, klik artikel berikut "Sikap Suami Terhadap Istri"
  
Selengkapnya klik disini - Sikap Istri Terhadap Suami

Sikap Suami Terhadap Istri

Untuk menciptakan keluarga yang sakinah, tidaklah cukup hanya dengan dilaksanakan oleh suaminya tanpa dukungan istri. Dan begitu pulalah sebaliknya, seorang istri akan sia-sia dalam mengupayakan terbinanya keluarga yang sesuai dengan harapan apabila suami tidak ikut berperan aktif. Masing-masing pihak harus secara sadar mengupayakan tercapainya tujuan hidup bersama tersebut. 

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, "Orang yang baik diantara kalian adalah orang yang berlaku baik kepada keluarganya. Sedang aku sendiri berlaku baik kepada keluargaku". (HR Syarif).

Berikut sikap suami terhadap istri :
  • Suami wajib membayar Maskawin kepada istrinya. Hadist Nabi menegaskan, "Adalah merupakan dosa besar bagi seorang pria yang kawin dengan seorang wanita sampai wanita tersebut diceraikan, ia belum membayar maskawinnya." (HR Baihaqi).
  • Suami wajib berlaku baik terhadap istrinya dengan memberikan hak-hak istrinya, seperti uang belanja, pakaian yang pantas dan kebutuhan-kebutuhan lain yang patut menurut kemampuan suami.
  • Suami harus menahan diri untuk tidak menyakiti dan memberatkan istrinya tanpa sebab yang jelas. Hadist Nabi Muhammad SAW, "Allah akan minta pertanggungjawaban kepada para pemimpin, berkenaan dengan yang dipimpinnya, adakah ia telah memeliharanya dengan baik? Kepada kaum pria akan diminta pertanggungjawaban atas keluarganya."
  • Suami harus menggauli istrinya dengan cara yang sebaik-baiknya. Menganggap istri sebagai teman yang paling dekat lahir dan bathin, teman senasib sepenanggungan di kala suka maupun duka. Komunikasi suami istri yang baik dan sehat akan memberikan contoh yang baik kepada anak-anaknya tentang bagaimana pergaulan antar sesama manusia yang baik.
  • Suami harus berlaku bijaksana, ramah tamah, berlaku manis dan lemah lembut terhadap istrinya, baik ketika mereka sedang berdua atau bersama orang banyak.
  • Suami hendaknya tidak melakukan sesuatu yang tidak berkenan di hati istri, apalagi melakukan sesuatu yang dapat melukai perasaan istri. Misalnya secara langsung mengkritik masakan istri yang kurang sedap.
  • Seandainya suami memanggil istri, hendaklah dengan sebutan-sebuta yang terbaik, bukan dengan panggilan yang menunjukan tidak adanya keakraban dan kemesraan. Islam mengajarkan kepada setiap manusia agar memanggil orang lain dengan sebutan-sebutan yang baik dan menyenangkan.
  • Bila suatu ketika istri melakukan kesalahan yang membangkitkan kemarahan suami, sedapat mungkin suami menahan diri untuk tidak marah. Pilihlah kata-kata yang sopan dan tidakmenyinggung perasaan istri.
  • Kalau istri sedang marah, sebaiknya suami jangan menjawab, cukup meninggalkan tempat itu dengan diam saja. Dan sebaiknya meredakan kemarahan itu dengan berseloroh dan bersenda gurau, yang dapat menimbulkan suasana santai dan humor. Dengan demikian, pertengkaran yang sedang berlangsung dapat diselesaikan dengan lebih cepat.
  • Suami tidak boleh menumpahkan seluruh perhatiannya pada pekerjaan semata-mata. Hendaklah meluangkan waktu untuk bersantai dan beristirahat bersama istrinya.
  • Jangan segan-segan memuji kelezatan masakan yang dimasak oleh istrinya dan jangan sungkan-sungkan memuji dandanannya atau kecantikannya. Kebiasaan seperti ini akan merupakan obat yang paling mujarab bagi seorang istri dari kepenatan sehari-hari dalam mengurusi segala macam kebutuhan keluarga.
Demikianlah sikap-sikap yang harus diterapkan dalam membina keluarga yang sakinah, mudah-mudahan artikel ini dapat membantu suami istri yang sedang menghadapi masalah keluarga. Amin...

(Artikel ini ditulis oleh Drs. Chamim Zarkasyi Poetro pada Majalah "Nasehat Perkawinan dan Keluarga" Nomor 212 Tahun XVIII Pebruari 1990 Halaman 3-6)

Sumber :
http://www.hendriono.web.id/2009/07/sikap-suami-terhadap-istri.html 
atau klik disini


Selengkapnya klik disini - Sikap Suami Terhadap Istri

Aku Menikahimu Dengan Sederhana

Aku senantiasa mengingat saat pernikahan kita
Bukan karena ia berlangsung di gedung mewah
Juga bukan karena iringan degung dan gamelan, atau pakaian mengkilap dan kosmetika
Harapan kita adalah kita tak dibuat silau dengan gemerlap dunia

Aku ingat karena kita menikah begitu sederhana
Tanpa undangan pernikahan, hanya SMS dan undangan lisan
Di masjid kecil yang terpojok rumah-rumah menjulang
Kita berharap agar keturunan kita mencintai masjid dan terpaut hati padanya

Aku ingat karena kita menikah begitu sederhana
Karena kita tak sempat dan tak ingin disibukkan oleh remeh-temeh upacara
Apalagi upacara-upacara yang menurut agama tak selayaknya ada
Sebab kita berharap agamalah yang memandu perjalanan kita

Walimat l 'ursy kita hanya dilangsungkan di rumah saja
Menunya tak seberapa istimewa
Namun alhamdulillah kita masih bisa mendengar adzan dan shalat pada waktunya
Harapan kita adalah kita masih bisa mendengar adzan dalam setiap kesibukan rumah-tangga kita

Aku ingat karena kita menikah begitu sederhana
Hanya jas pinjaman berwarna coklat dan dasi sedikit sobek
Mahar sederhana karena engkau memintanya begitu
Harapannya adalah kita tak disibukan oleh pakaian dan perhiasan dunia

Aku ingat karena kita menikah begitu sederhana
Kita mendobrak kebiasaan dan tradisi yang mempersulit pernikahan
Bahwa inti pernikahan bukan yang lain-lain, bukan prestise yang harus ditunjukkan pada tamu-tamu
Demikianlah mudah-mudahan kita menemukan inti dari setiap lekuk hidup berumah-tangga

Kita berharap, semoga melalui hisab sederhana pula, bersama-sama kita berumah di syurga

dari catatan Mohamad Ishaq, M.Si.

Sumber : klik disini
Selengkapnya klik disini - Aku Menikahimu Dengan Sederhana

Kado Ulang Tahun Buat Istri

Postingan Kali ini adalah sebuah cerita yang menurut saya baik untuk direnungkan.
Sebelumnya sy memohon maaf karena cerita yang sy posting ini diambil dari salah satu arsip artikel yang sudah lama sy simpan di pc sy namun dengan sangat menyesal waktu itu sy tidak menyalin cerita ini secara kesuluruhan, baik sumbernya terlebih siapa penulisnya, tapi siapapun itu semoga beliau senantiasa mendapat petunjuk kebaikan dari Allah SWT. serta dimudahkan urusannya. Amiin..    

KADO ULANG TAHUN BUAT ISTRI

"De'... de'.... Selamat Ulang Tahun..."
bisik seraut wajah tampan tepat di hadapanku.
"Hmm..." aku yang sedang lelap hanya memicingkan mata dan tidur kembali setelah menunggu sekian detik tak ada kata-kata lain yang terlontar dari bibir suamiku dan tak ada sodoran kado di hadapanku.

Shubuh ini usiaku dua puluh empat tahun.
Ulang tahun pertama sejak pernikahan kami lima bulan yang lalu. Nothing special. Sejak bangun aku cuma diam, kecewa. Tak ada kado, tak ada black forest mini, tak ada setangkai mawar seperti mimpiku semalam. Malas aku beranjak ke kamar mandi. Shalat Subuh kami berdua seperti biasa. Setelah itu kuraih lengan suamiku, dan selalu ia mengecup kening, pipi, terakhir bibirku. Setelah itu diam. Tiba-tiba hari ini aku merasa bukan apa-apa, padahal ini hari istimewaku.Orang yang aku harapkan akan memperlakukanku seperti putri hari ini cuma memandangku.

Alat shalat kubereskan dan aku kembali berbaring di kasur tanpa dipanku. Memejamkan mata, menghibur diri, dan mengucapkan.
Happy Birthday to Me... Happy Birthday to Me....
Bisik hatiku perih. Tiba-tiba aku terisak. Entah mengapa. Aku sedih di hari ulang tahunku.
Kini aku sudah menikah. Terbayang bahwa diriku pantas mendapatkan lebih dari ini. Aku berhak punya suami yang mapan, yang bisa mengantarku ke mana-mana dengan kendaraan. Bisa membelikan blackforest, bisa membelikan aku gamis saat aku hamil begini, bisa mengajakku menginap di sebuah resort di malam dan hari ulang tahunku. Bukannya aku yang harus sering keluar uang untuk segala kebutuhan sehari-hari, karena memang penghasilanku lebih besar. Sampai kapan aku mesti bersabar, sementara itu bukanlah kewajibanku.

"De.... Ade kenapa?" tanya suamiku
dengan nada bingung dan khawatir.

Aku menggeleng dengan mata terpejam. Lalu membuka mata. Matanya tepat menancap di mataku. Di tangannya tergenggam sebuah bungkusan warna merah jambu. Ada tatapan rasa bersalah dan malu di matanya. Sementara bungkusan itu enggan disodorkannya kepadaku.

"Selamat ulang tahun ya De'..."
bisiknya lirih. "Sebenernya aku mau bangunin kamu semalam, dan ngasih kado
ini... tapi kamu capek banget ya? Ucapnya takut-takut.

Aku mencoba tersenyum. Dia menyodorkan bungkusan manis merah jambu itu. Dari
mana dia belajar membukus kado seperti ini? Batinku sedikit terhibur.
Aku buka perlahan bungkusnya sambil menatap lekat matanya. Ada air yang menggenang.

"Maaf ya de, aku cuma bisa ngasih ini.
Nnnng... Nggak bagus ya de?" ucapnya terbata. Matanya dihujamkan ke lantai.

Kubuka secarik kartu kecil putih manis dengan bunga pink dan ungu warna favoritku. Sebuah tas selempang abu-abu bergambar
Mickey mengajakku tersenyum. Segala kesahku akan sedikitnya nafkah yang diberikannya menguap entah ke mana. Tiba-tiba aku malu, betapa tak bersyukurnya aku.

"Jelek ya de'? Maaf ya de'... aku nggak
bisa ngasih apa-apa.... Aku belum bisa nafkahin kamu sepenuhnya. Maafin aku ya de'..." desahnya.

Aku tahu dia harus rela mengirit jatah makan siangnya untuk tas ini. Kupeluk dia dan tangisku meledak di pelukannya. Aku rasakan tetesan air matanya juga membasahi pundakku. Kuhadapkan wajahnya di hadapanku.
Masih dalam tunduk, air matanya mengalir. Rabbi... mengapa sepicik itu pikiranku? Yang menilai sesuatu dari materi? Sementara besarnya karuniamu masih aku pertanyakan.

"A' lihat aku...," pintaku padanya.
Ia menatapku lekat. Aku melihat telaga bening di matanya. Sejuk dan menenteramkan. Aku tahu ia begitu menyayangi aku, tapi keterbatasan dirinya menyeret dayanya untuk membahagiakan aku. Tercekat aku menatap pancaran kasih dan ketulusan itu. "Tahu nggak... kamu ngasih aku banyaaaak banget,"
bisikku di antara isakan. "Kamu ngasih aku seorang suami yang sayang sama istrinya, yang perhatian. Kamu ngasih aku kesempatan untuk meraih surga-Nya.
Kamu ngasih aku dede'," senyumku sambil mengelus perutku. "Kamu ngasih aku sebuah keluarga yang sayang sama aku, kamu ngasih aku mama...." bisikku dalam cekat.

Terbayang wajah mama mertuaku yang perhatiannya setengah mati padaku, melebihi keluargaku sendiri. "Kamu yang selalu nelfon aku setiap jam istirahat, yang lain mana ada suaminya yang selalu telepon setiap siang," isakku diselingi tawa. Ia tertawa kemudian tangisnya semakin kencang di pelukanku.

Rabbana... mungkin Engkau belum memberikan kami karunia yang nampak dilihat mata, tapi rasa ini, dan rasa-rasa yang pernah aku alami bersama suamiku tak dapat aku samakan dengan mimpi-mimpiku akan sebuah rumah pribadi, kendaraan pribadi, jabatan suami yang oke, fasilitas-fasilitas. Harta yang hanya terasa dalam hitungan waktu dunia. Mengapa aku masih bertanya. Mengapa keberadaan dia di sisiku masih aku nafikan nilainya. Akan aku nilai apa ketulusannya atas apa saja yang ia berikan untukku? Hanya dengan keluhan? Teringat lagi puisi pemberiannya saat kami baru menikah...
aku ingin mencintaimu dengan sederhana...
Selengkapnya klik disini - Kado Ulang Tahun Buat Istri

Wali Nikah

Wali Nikah

Ditulis oleh Dewan Asatidz   
Tanya:

Ustadz,

Saya ingin menanyakan dua hal tentang wali nikah:
  1. Apakah wali pernikahan saya sah bila langsung diwalikan kepada penghulu? Mengingat saya sudah berusaha mencari keberadaan bapak kandung dan keluarganya namun tdk berhasil.
  2. Apakah bisa diwalikan selain penghulu atau paman dari pihak bapak kandung saya? Semisal diwalikan kepada kakak laki-laki saya (satu ibu lain bapak), bapak tiri, ataupun paman saya dari pihak ibu?
Demikian pertanyaan saya, terima kasih atas jawabannya.

Heni Budi - Bekasi Timur

Jawab:

Mbak Heni yang baik,

Anda tidak perlu risau tentang masalah wali nikah ini. Nikah memang tidak sah jika tidak ada wali, tetapi yang boleh menjadi wali itu bukan hanya ayah. Berikut ini saya sebutkan urutan orang-orang yang boleh menjadi wali dalam pernikahan seorang gadis.
  1. Ayah
  2. Kakek (bapaknya bapak)
  3. Saudara laki-laki sekandung
  4. Saudara laki-laki sebapak(lain ibu)
  5. Anak laki-lakinya saudara laki-laki kandung (keponakan)
  6. Anak laki-lakinya saudara laki-laki sebapak
  7. Paman (saudara laki-laki bapak sekandung)
  8. Paman (saudara laki-laki bapak sebapak)
  9. Anak laki-laki dari paman nomor 6 dalam urutan ini
  10. Anak laki-lakidari paman nomor 7 dalam urutan ini
Dari urutan tersebut, yang lebih berhak menjadi wali adalah yang paling atas urutannya, kemudian yang di bawahnya dan seterusnya. Jika wali yang berada pada urutan pertama (ayah) masih ada, maka wali pada urutan di bawahnya tak boleh menjadi wali. Tapi jika wali yang pertama tidak ada (karena sudah meninggal atau pergi dan tak diketahui tempatnya, atau berada di tempat yang sangat jauh dan tak mungkin didatangkan karena tidak ada biaya, dll), maka wali yang berada pada urutan berikutnya boleh menggantikannya. Demikian seterusnya.

Selain itu, wali yang berhak juga boleh mewakilkan kewaliannya kepada orang lain.
 

Jika memang tidak ada satupun wali, maka yang berhak menikahkan adalah penghulu. Sebagaimana sabda Rasulullah, "Sultan adalah wali orang yang tidak mempunyai wali (nikah)." Sultan dalam konteks sekarang adalah pegawai pemerintah (KUA), yaitu penghulu.

Ali Mashar

Sumber *Copas dari www.pesantrenvirtual.com tanpa pengubah kata, kalimat titik koma dll.
Link sumber klik disini

Semoga bermanfaat.

Selengkapnya klik disini - Wali Nikah